Skip to main content

Peluang Hikmah Dalam Kisah Haji

Pamit ibadah haji

Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Bahkan dari kejadian yang dialami orang lain pun kita bisa mengambil hikmah atau makna untuk pribadi kita. Berikut adalah pengalaman pribadi saya, semoga ada hikmah atau manfaat untuk Anda yang berkesempatan baca.


Suatu pagi di tahun 2007.  Aku menyengajakan datang ke rumah mertua. Kebiasaan yang jarang aku lakukan kecuali aku memang menginap sejak malam sebelumnya. Kucari nenek (ibu mertua) ke dapur, ternyata ia sedang mencuci piring. Sambil mendekat aku sampaikan niatku untuk pulang kampung untuk pamit pada orang tua (bapak-ibu) di Magelang sehubungan dengan rencanaku naik haji bersama istri. Dengan tetap semangat mencuci piring-gelas, nenek kelihatan antusias menanggapi omonganku.


“Iya bener (A)yah, jangan lupa sempetin pulang ke bapak ama ibu. Minta maaf lahir batin, minta didoain biar semuanya lancar di sana. Berangkat sehat, di sana sehat, pulang juga sehat. Itu yang paling penting, supaya ibadahnya maksimal.” Begitu nenek memperlihatkan dukungannya pada rencanaku untuk pulang kampung.


Bapak (bapak mertua) yang tadinya di kamar lalu mendekat pengin nimbrung pembicaraan. Mungkin baginya isi pembicaraan ini menarik. Oya, cara aku memanggil mertua memang agak janggal, seperti tidak konsisten. Kepada ibu mertua aku panggil “nenek”, kepada bapak mertua aku panggil “bapak”, bukan “kakek”. Ah, biar sajalah.


Nenek terus melanjutkan omongannya. “Sama ini yah, jangan lupa bilang, tolong rela dan ridho ya kalau nanti selama ayah pergi haji, misalnya Alloh ambil yang di rumah kampung, ayah akan ridho. Sebaliknya, kalau Alloh ambil ayah, bapak-ibu tolong yang ridho. Makanya minta maaf lahir batin yang bener sama bapak-ibu nanti pas pulang”.


Aku kaget mendapat pesan-pesan seperti. “Sebegitunya ya???, pergi haji seperti siap mati”, batinku dalam hati.


Bapak kemudian menimpali. “Iya yah, kita kan nggak tahu umur kita sampai mana. Supaya kita tetap khusyuk, karena nggak mungkin kita tiba-tiba pulang sebelum kelar hajinya meskipun ada hal penting terjadi di rumah, makanya ya kita harus persiapkan segala kemungkinan. Termasuk soal yang nenek bilang tadi. Kalau misalnya ayah diambil Alloh di sana, atau mungkin bapak atau ibu yang diambil Alloh padahal Ayah belum pulang dari haji. Pokoknya usahakan Ayah nanti berangkat haji itu plong, bebas tidak mikirin apapun yang di rumah, percaya aja semua akan baik-baik aja karena Alloh yang akan jaga. Cuma satu yang Ayah pikirin, gimana supaya ibadah-ibadah Ayah di sana bisa maksimal. Tidak terganggu oleh pikiran ataupun kesehatan.”


Aku diam menyimak kata-kata mertuaku. Untung aku dikasih tahu nih, soalnya nggak kepikiran sama sekali sebelumnya!!, pikirku dalam hati.


Akhirnya, akupun jadi pulang kampung dan lakukan apa yang disarankan mertua. Bapak dan ibuku menyambut permohonanku. Meski tidak dengan banyak bicara, karena pembawaan keluargaku memang tidak ekspresif/pendiam, aku bisa menangkap bahwa mereka menyambut baik semua permohonanku. Permintaan maaf, permintaan doa, dan permintaan untuk ridho. Meski tanpa banyak bicara mereka terlihat haru. Tak lupa aku juga sempatkan mengunjungi sekaligus pamit dan minta doa kepada dua guru ngajiku waktu kecil. Beliau adalah Almarhum Pak Anas dan Pak Baekuni.


Singkat kata singkat cerita, sampailah pada saat aku berada di Madinah dalam rangkaian pertama ibadah haji. Di tengah kesibukanku menunaikan ibadah sholat lima waktu di Masjid Nabawi, istriku mendapat telepon dari bapak mertua. Aku yang sedang makan di kamar hotel kaget begitu ia mengucap Innalillahi wainnailaihirojiun. Langsung aku tanya istriku yang masih menempelkan HP di kupingnya, “Kenapa Ma, siapa yang meninggal Ma?”. Istriku sambil nangis bilang, “Ibu yah, ibu Magelang nggak ada”.


Sontak seisi kamar yang terdiri dari 4 pasang suami-istri berucap Innalillahi wainnailaihirojiun. Semua kemudian memelukku, memintaku untuk sabar, dan tetap fokus pada ibadah karena semua sudah kehendak Alloh. Pamanku berkali-kali bilang agar aku selalu mendoakan almarhum ibu di setiap kesempatan ibadah, mumpung di tempat yang suci katanya. “Setiap saat doakan ibu, pasti akan sampai, insha Alloh mustajab karena tempat dan waktunya istimewa”. Masih belum puas, pamanku ini juga menekankan agar nanti pas thawaf depan ka’bah dan pas arafah doakan ibu sebanyak-banyaknya. Sekhusyuk-khusyuknya.


Ternyata kabar meninggalnya ibuku di sampaikan ke keluarga Jakarta oleh kakak tertuaku kepada bapak mertua. Karena tidak tega menyampaikan langsung kepadaku, bapak memilih ngomong kepada anaknya sendiri, alias istriku.


Perasaan sedih menggelayut. Langsung bayangan wajah ibu amarhum teringat jelas olehku. Cara ibu ngomong, kebiasaan-kebiasaannya, dan momen terakhir aku berbicara di telepon dengannya saat aku memulai hariku di Madinah. Waktu itu aku sempat telepon ibu sekadar kasih tahu aku sudah tiba di Madinah sambil menanyakan kabar kesehatannya. Ibuku memang memiliki penyakit gula,tapi ia sehat-sehat saja sewaktu aku berangkat haji.


Tidak lama dari kabar duka itu datang, waktunya sholat ke Nabawi tiba. Tapi aku lupa waktu itu pagi, siang, sore atau malam. Aku bergegas ke Nabawi bersama kakak ipar, paman, dan jamaah satu hotel lainnya. Sampai di masjid aku sholat seperti biasa. Tak henti aku doakan almarhum ibuku. Baca al Fatihah, yaasin, baca apa aja sebisaku dan semua kutujukan agar Alloh mengampuni dosa-dosanya dan menghadiahkan surga untuk ibuku.


Ibadah di Nabawi (Arbain kalau nggak salah istilahnya) adalah rangkaian acara pertama ibadah haji saya, berikutnya masih banyak kegiatan ibadah lainnya. Di semua kegiatan ibadah itu aku selalu sempatkan doa untuk almarhum ibu. Sekembalinya dari berhaji pun saya langsung ke Magelang untuk ziarah ke makam beliau.


Beruntung sebelum berangkat haji aku sempat pamit, minta maaf dan minta ridho pada ibu. Semoga ibu khusnul khotimah. Terima kasih untuk kedua mertuaku yang telah membiayai aku dan istri berhaji, juga menekankan pentingnya pamit haji sehingga aku siap dengan apapun yang terjadi. Ibu tercintaku, Hj. Kasinah Binti Atmodimedjo, berpulang. 


Sekali lagi, semoga ibuku khusnul khotimah dan juga bapakku.
Semoga kedua mertuaku selalu diberkahi Alloh. Aamiin.







Sumber image: pribadi


Comments

Popular posts from this blog

Peluang Beramal Membangun Rumah Yatim Piatu

Kapan terakhir Anda beramal shadaqoh? Berikut adalah informasi tentang peluang beramal membangun rumah yatim piatu yang bisa menjadi kesempatan Anda beramal shodaqoh di jalan Alloh SWT. Rumah yatim piatu tersebut adalah Panti Asuhan Nurul Hasanah yang beralamat di Jl. AMD V No. 27 Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Sasaran beramal shodaqoh sebenarnya tidak hanya anak yatim, namun keutamaan berbuat baik, menyantuni dan memuliakan anak yatim sangat ditekankan seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an dan hadist: “Dan berbuat baiklah kepada ibu bapak dan kaum kerabat serta anak-anak yatim dan orang-orang miskin.” (QS Al Baqarah, 2:83).“Dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin.” (Al Baqarah, 2:177).“Katakanlah, “Apa saja harta benda (yang halal) yang kamu infakkan, maka berikanlah kepada ibu bapak, kaum kerabat dan anak-anak yatim.” (QS Al Baqarah, 2:215).“Dan mereka bertanya kepadamu mengenai anak-anak yatim. Katakanlah, “Me…

Peluang Sehat Lawan Kanker dengan Jamur Maitake

Menurut data Kementerian Kesehatan, prevalensi penyakit kanker pada penduduk semua umur di Indonesia tahun 2013 sebesar 1.4% atau diperkirakan sekitar 347.792 orang. Jika kita amati, dalam pengobatan kanker sering kali orang hanya fokus pada kesembuhan, sedangkan apa yang terjadi selama pasien berjuang mendapatkan kesembuhan jarang disorot. Padahal selama berjuang pasien harus menanggung berbagai efek samping kemoterapi yang tidak hanya mengganggu aspek fisik tetapi juga mental pasien. Oleh karena itulah diperlukan solusi atau upaya tambahan untuk mengurangi ‘penderitaan’ pasien kanker selama menjalani kemoterapi.

Pada sebuah kesempatan peluncuran produk Vitacare Maitake Pro di Jakarta, dr. Toto Imam Soeparmono Sp.OG.K.Onk—dokter spesialis kebidanan dan kandungan serta konsultan onkolog (kanker)—menyatakan bahwa ada tiga jenis terapi kanker yaitu primer, sekunder, dan komplementer. Terapi primer dengan cara pembedahan atau radiasi bertujuan untuk mengatasi pertumbuhan sel kanker. Terap…

Peluang Kerja CPNS Tahun 2017 di 61 Lembaga Negara

Di bulan Septemberi 2017 ini pemerintah membuka peluang kerja bagi masyarakat yang tertarik menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tidak tanggung-tanggung, sejumlah 17.928 disediakan untuk pelamar yang penempatannya nanti tersebar di 61 lembaga Negara (ada 1 untuk pemerintahan provinsi).

Harap diingat bahwa peluang ini waktunya sangat terbatas, jadi jika Anda berminat maka segeralah berburu informasi yang lebih lengkap. Informasi yang kredibel mengenai peluang kerja CPNS tahun 2017 ini hanya bisa diperoleh di website kementerian terkait yaitu Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dengan link: https://cpns.menpan.go.id/index.php/home/cpns/2
Pendaftaran 11-25 September 2017.


Bagi Anda yang berusia di bawah 35 tahun masih berpeluang untuk mencoba peluang kerja ini. Peluang kerja CPNS 2017 secara rinci bisa juga dicek di bawah ini:
Telah diumumkan dan dibuka secara resmi Penerimaan CPNS Periode 2 tahun 2017 sebanyak 61 Kementerian/Lembaga. Silahkan download pengumuman resmi p…